KEUTAMAAN MEMBACA KITAB SUCI AL-QUR’AN DAN BAGAIMANA TATA CARA MEMBACANYA
|
Sebelum
kita membicarakan sesuai judul tulisan kita kali ini yaitu seperti
tersebut diatas, ada baiknya kita terlebih dahulu membicarakan setentang
bagaimana sejarah penulisan kitab suci Al-Qur’an bahkan sejarah
bagaimana membukukannya.
Saudaraku, sejarah telah mengungkapkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis), untuk menjamin kemurnian dan kesucian Al-Qur’an, maka Nabi Muhammad SAW
memerintahkan para Sahabat untuk menulis ayat-ayat Al-Qur’an saja,
sedangkan Hadist Nabi tidak dizinkan untuk ditulis karena dikhawatirkan
akan bercampur aduk dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Untuk keperluan
penulisan Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai juru tulis sekaligus mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an. Tugas Zaid bin Tsabit sungguh berat tetapi mulia, yaitu menulis wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT dengan perantaraan Malaikan Jibril as, serta meletakkan urutan kalimatnya sesuai dengan petunjuk Nabi. Seperti diketahui bahwa segala gerak-gerik Nabi, baik dalam perkataan maupun perbuatan adalah wahyu, sebagaimana Firman Allah SWT :
“Nabi tidak berkata menurut hawa nafsunya, tetapi apa yang diucapkan hanyalah wahyu yang diberikan.” (QS: An-Najm : 3 )
Saudaraku,
demikianlah halnya setiap ayat yang turun ditulis pada batu-batu,
tulang-tulang pelepah korma, kulit binatang dan lain sebagainya, karena
pada waktu itu belum ada kertas seperti sekarang ini. Dalam melaksanakan tugas selaku juru tulis wahyu, Zaid bin Tsabit berhati-hati, ia tidak mau menulis ayat-ayat begitu saja, kecuali setelah disaksikan kebenarannya oleh dua orang
saksi yang adil, sungguh pun ia sendiri hafal Al-Qur’an. Dengan
demikian Al-Qur’an tetap terjamin murni dan bersih dari segala noda
kesalahan dan kekeliruan.
Seperti diketahui bahwa sebelum Al-Qur’an diturunkan, seni sastra Arab telah berkembang pesat, bahkan merupakan sebagian dari kebudayaan bangsa Arab yang sangat menonjol waktu itu. Demikian halnya setelah Al-Qur’an diturunkan, kaum Kuffar Quraisy tidak mau menerima dan mempelajari akan kebenaran Al-Qur’an sebagai wahyu Allah SWT. Bahkan mereka menuduh bahwa Al-Qur’an tidak lebih dari karangan Nabi Muhammad SAW, walaupun mereka mengetahui beliau ( Nabi SAW ) tidak bisa membaca dan menulis. Oleh sebab itu Allah SWT menantang mereka untuk membuktikan tuduhannya, sebagaimana Firman-Nya :
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur’an yang kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolong selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (QS : Al-Baqaroh : 23 )
Dalam Ayat yang lain Allah SWT menjelasakan ketidakmampuan manusia maupun makhluk lainnya untuk meniru dan menandingi AL-Qur’an, seperti Firman-Nya:
“Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin
berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak
dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi
pembantu bagi sebagian yang lain.” ( QS : Al-Isro : 88 )
Saudaraku,
sebelum Nabi Muhammad SAW wafat, ayat-ayat Al-Qur’an secara keseluruhan
sudah ditulis walaupun belum tersusun dalam satu mushaf (satu
buku).Selain dari pada itu ayat-ayat Al-Qur’an tersimpan teguh dalam
hafalan para Sahabat.
Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, dan Abu Bakar diangkat menjadi Khalifah, timbullah golongan orang-orang murtad (meninggalkan agama islam) yang dipimpin oleh Musailamah Al-Kazzab. Golongan ini segera ditumpas Khalifah Abu Bakar dibawah pimpinan panglima perang Khalid bin Walid.
Dalam pertempuran ini pasukan Khalid bin Walid banyak yang gugur mati
syahid, termasuk di antaranya Sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an.
Dalam pertempuran ini pasukan pemberontak mati terbunuh. Dengan
meninggalnya Sahabat-sahabat yang hafal Al-Qur’an, maka timbul pemikiran
untuk membukukan Al-Qur’an dalam satu mushaf dengan maksud agar Al-Qur’an tetap terjamin murni dan terhindar dari kekeliruan. Untuk melaksanakan tugas yang mulia ini, Zaid bin Tsabit diberi kepercayaan untuk mengumpulkan Al-Qur’an dengan dibantu oleh sahabat-sahabat yang hafal Al-qur’an seperti Ubay bin Ka’ab, Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan dan lain-lainnya. Pengumpulan Al-Qur’an dapat diselesaikan dalam jangka 1 (satu) tahun dalam bentuk mushaf, kemudian disimpan dirumah Khalifah Abu Bakar sampai beliau wafat.
Demikianlah setelah Abu Bakar wafat dan Umar Bin Khattab diangkat menjadi khalifah, ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah terkumpul menjadi satu mushaf disimpan oleh Hafsah. Hal ini dilakukan mengingat bahwa Hafsah adalah istri Nabi Muhammad SAW yang hafal Al-Qur’an dan anak dari khalifah Umar bin Khattab yang pandai membaca dan menulis.
Sungguh pun demikian usaha untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an tidak terhenti sampai disitu saja, bahkan sampai pada masa Khalifah Usman bin Affan diadakan penelitian kembali dan ditulis kembali dalam 6 (enam) mashaf. Satu mashaf disimpan di Madinah dan yang lain dikirim ke Basrah, Kufah, Makkah, Syiria, dan 1 (satu) mashaf pada khalifah Usman yang disebut dengan Mashaf Al-Imam
sebagai Al-Qur’an standar. Selanjutnya khalifah Usman bin Affan meminta
kepada kaum muslimin dimanapun mereka berada untuk berpedoman kepada
Al-Qur’an yang resmi itu dan beliau memerintahkan mereka untuk membakar
mashaf-mashaf Al-Qur’an yang lain. Hal ini dimaksudkan agar kesucian dan
kemurnian Al-Qur’an tetap terjamin sepanjang masa terhindar dari
kesalahan dan penyelewengan.
Saudaraku sesama muslim,
Al-Qur’an adalah kitab suci umat islam yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada umat manusia.
Seperti yang pernah diterangkan bahwa membaca Al-Qur’an adalah
merupakan ibadah yang akan mendapat ganjaran (pahala) dari Allah SWT pada hari akhirat nanti. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW :
“Barang
siapa membaca satu huruf kitab Allah (Al-Qur’an) maka ia mendapat satu
kebaikan. Dan setiap satu kebaikan mendapat sepuluh yang semisalnya.
Tidaklah aku katakan bahwa alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” ( HR. Tarmidzi )
Dan pada Hadist yang lain, bersabda Rasulullah SAW :
“Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Turmidzi).
Apabila
kita membaca Hadist-hadist Nabi yang berhubungan dengan keutamaan
membaca Al-Qur’an, beliau (Nabi SAW) selalu menganjurkan umatnya agar
memperbanyak membaca Al-Qur’an, baik dikala senang maupun susah. Dengan
demikian akan terciptalah ketenangan dalam hati, sebagai obat dan rahmat bagi
umat yang beriman kepada-Nya. Dapat dipastikan bahwa Al-Qur’anlah yang
paling banyak dibaca umat manusia dibanding dengan lainnya, hal ini
menunjukkan suatu bukti keistimewaan AL-Qur’an. Dapat
kita saksikan bahwa Al-Qur’an selalu dibaca, baik secara perorangan
maupun berkelompok. Bahkan AL-Qur’an wajib dibaca dalam shalat lima
waktu sebagai persyaratan syahnya shalat seseorang.
Dan
selaku umat islam kita dituntut untuk mempelajari, mangahayati dan
mengamalkan ajaran AL-Qur’an, baik dalam kehidupan pribadi maupun rumah
tangga. Membaca AL-Qur’an adalah merupakan suatu perbuatan amal shaleh,
bahkan bagi mereka yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an merupakan suatu
ibadah, sesuai Firman Allah SWT :
“Dan apabila dibacakan AL-Qur’an maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikan dengan tenang, agar kamu mendapat rahmat.” ( QS. Al-A’raf : 204 )
Saudaraku,
Al-Qur’an sebagai kitab suci wajib dihormati, untuk itu apabila membaca
Al-Qur’an Nabi Muhammad SAW menganjurkan dengan tata cara tertentu,
yaitu antara lain :
1. Sebelum membaca AL-Qur’an, disunatkan berwudhu, karena yang dibaca adalah kitab suci, jadi bagi mereka yang membaca harus dalam keadaan suci dan bersih.
2. Dimualai dengan membaca Do’a taawudz yaitu: A’uudzu billaahi minsy-syaithoonirrojim (aku mohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk), dilanjutkan dengan membaca basmalah : Bismillahirrohmanirrohim
(Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang). Demikian
juga apabila pembacaan Al-Qur’an akan berakhir hendaklah mengucapkan do’a: Shodaqollahul adzim ( Maha Benar Allah yang Maha Agung )
3. Dianjurkan membaca Al-Qur’an dengan tartil, tenang dan perlahan-lahan, dengan maksud agar lebih memantapkan jiwa, hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT :
“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengna tartil (perlahan-lahan). ( QS : Al-Muzammil : 4 )
4. Membaca Al-Qur’an dianjurkan dengan suara yang indah dan merdu. Hal ini sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW :
“Hiasilah bacaan Al-Qur’an dengan suaramu yang merdu dan indah.” (HR – Abu Daud)
5. Membaca Al-Qur’an dianjurkan dengan menjahar atau mengeraskan suara, sekurang-kurangnya didengar oleh sipembaca walaupun demikian perlu disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Ket. : Pembacaan ayat pada shalat Maghrib, Isya, Subuh berbeda dengan bacaan ayat pada shalat Dzuhur dan Ashar.
Tata cara pembacaan kitab suci Al-Qur’an tersebut diatas perlu dihayati dan diamalkan dengan sebaik-baiknya, guna mempertinggi mutu dan nilai tilawah, sehingga memancarkan keindahan yang terpadu
antara tajwid, lagu dan adab tilawah. Dengan Demikian pembacaan
Al-Qur’an diharapkan dapat menambah iman dan tawakkal serta penyerahan
diri kepada Allah SWT. Perhatikan Firman Allah SWT :
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” ( QS : Al-Anfal :2 )
Saudaraku, akhir dari tulisan (artikel) religius ini perkenankan penulis mengucapkan : “Subhanakallahumma Wabihamdika Ashadu Ala ila ha illallah. Astagfiruka wa’atubu ilaika.”
Diterangkan
oleh Rasul bahwa yang demikian itu adalah sebagai kafarat (penghapus)
terhadap sesuatu (kekhilafan) yang terjadi didalam sebuah pertemuan dan
diucapkan oleh beliau apabila hendak meninggalkan pertemuan itu. Saya
(penulis) sadari betul tulisan saya ini sebagai tulisan religius tentu
disana-sini terdapat kekurangan dan kekhilafan. Saya berharap kritik dan
saran dari sidang pembaca dan kepada Allah SWT jua saya memohon kemaafan dan ampunan-Nya.
Terimakasih atas segala perhatian, jumpa lagi kita pada tuliasan
(artikel) mendatang, insya Allah. Wabillahi Taufik Wal Hidayah
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
***
( Bahan – bahan (materi) diambil dan dikutip dari buku : Lintasan Sejarah AL-Qur’an Oleh : Achmad Syauki dan dari Catatan Taklim penulis. )
|
Komentar
Posting Komentar